Edukasi

Monitoring Temperatur Bunker Batu Bara, Pulverizer, dan Tangki Bahan Bakar di PLTU

AAndreas Budi Ekayana Oktober 16, 2026 2 menit baca 19 kali dibaca
Monitoring Temperatur Bunker Batu Bara, Pulverizer, dan Tangki Bahan Bakar di PLTU

Kebakaran di sistem bahan bakar PLTU jarang terjadi secara tiba-tiba. Biasanya ada tanda yang muncul berjam-jam atau bahkan berhari-hari sebelumnya, yaitu temperatur yang naik perlahan di dalam bunker, di keluaran pulverizer, atau di tangki bahan bakar. Pembangkit yang memantau titik-titik ini punya waktu untuk bertindak sebelum masalah membesar.

Batu bara di bunker dan stockpile terus bereaksi dengan oksigen di udara. Reaksi ini menghasilkan panas sedikit demi sedikit, dan bila panasnya tidak sempat terbuang, temperatur di bagian dalam tumpukan bisa terus naik hingga terjadi pembakaran spontan. Risikonya lebih tinggi untuk batu bara berkalori rendah yang banyak dipakai di Indonesia, terutama bila batu bara tertahan lama di bunker saat unit beroperasi dengan beban rendah. Sensor temperatur dengan probe panjang yang menjangkau bagian dalam bunker dapat menangkap kenaikan ini sejak awal. Hal yang sama berlaku untuk silo biomassa, karena serbuk kayu dan cangkang sawit juga bisa memanas sendiri saat disimpan.

Di pulverizer atau coal mill, batu bara digiling sambil dikeringkan oleh udara panas, lalu dibawa ke burner. Temperatur campuran udara dan serbuk batu bara di keluaran mill termasuk parameter yang paling dijaga oleh operator. Jika terlalu rendah, batu bara tidak cukup kering dan mill bisa tersumbat. Jika terlalu tinggi, risiko kebakaran atau ledakan di dalam mill meningkat. Karena itu, temperatur keluaran mill biasanya dikendalikan secara otomatis dengan mengatur campuran udara panas dan udara dingin.

Sensor di keluaran mill bekerja di lingkungan yang berat, karena serbuk batu bara bergerak cepat dan bersifat abrasif. Sensor perlu dilindungi thermowell yang tahan aus dan ditempatkan di titik yang mewakili temperatur campuran, bukan hanya temperatur di dekat dinding.

Tangki bahan bakar minyak, seperti solar (HSD) untuk start-up unit atau minyak bakar (MFO) untuk pembakaran pendukung, juga memerlukan pemantauan temperatur. Pada MFO yang perlu dipanaskan agar mudah dipompa, sensor di tangki mengendalikan pemanas agar bahan bakar tidak terlalu kental dan tidak dipanaskan berlebihan. Data temperatur juga membantu menghitung volume bahan bakar secara akurat bila digabungkan dengan pengukuran level.

Semua titik ukur ini umumnya terhubung ke DCS melalui temperature transmitter berkeluaran 4–20 mA. Dengan begitu, operator dapat melihat tren temperatur bunker, mill, dan tangki dari ruang kontrol, lalu menerima alarm sebelum kondisi menjadi berbahaya.

CV. Rach Tekindo Makmur menyediakan Temperature Sensor & Temperature Transmitter untuk berbagai kebutuhan instrumentasi industri. Jika Anda membutuhkan sensor, transmitter, maupun konsultasi konfigurasi dan pemasangan untuk sistem temperatur, hubungi WhatsApp 0877-8620-5656 untuk mendiskusikan kebutuhan teknis dan meminta penawaran sesuai aplikasi yang diperlukan.

Butuh konsultasi instrumen?

Tim kami siap membantu memilih produk yang tepat untuk kebutuhan Anda.

Hubungi via WhatsApp

Telah dibaca 19 kali.

Artikel Terkait

Link disalin