Edukasi

Peran Temperature Sensor & Temperature Transmitter di Lini Produksi Sel dan Modul Surya

AAndreas Budi Ekayana Oktober 16, 2026 2 menit baca 12 kali dibaca
Peran Temperature Sensor & Temperature Transmitter di Lini Produksi Sel dan Modul Surya

Efisiensi sebuah sel surya sudah ditentukan jauh sebelum panel dipasang di atap. Selisih beberapa derajat di bak kimia saat proses texturing bisa mengubah bentuk permukaan wafer, dan perubahan kecil itu ikut menentukan berapa banyak cahaya yang diserap sel. Karena itu, pabrik fotovoltaik memperlakukan temperatur sebagai parameter proses yang sama pentingnya dengan konsentrasi bahan kimia.

Rangkaian produksinya cukup panjang, mulai dari pengolahan polisilikon dan pemotongan wafer, pemrosesan sel, sampai perakitan modul. Di hampir setiap tahap ada titik yang perlu dipantau temperaturnya, tetapi kebutuhan paling padat biasanya ada di proses basah dan di sistem utilitas yang menopangnya.

Proses basah seperti texturing, etching, dan cleaning dilakukan di bak berisi larutan asam atau basa. Texturing alkali dengan KOH atau NaOH umumnya berjalan di kisaran 70–85 °C, sehingga bak perlu dipanaskan dan dijaga stabil. Sebaliknya, etching dengan campuran asam HF dan HNO3 menghasilkan panas sendiri, sehingga larutannya justru harus didinginkan agar reaksi tidak berjalan terlalu cepat. Pada kedua kondisi ini, temperature sensor menjadi masukan utama bagi pengendali heater atau chiller di bak proses.

Setelah pemrosesan sel, panel dirakit dan dilaminasi. Mesin laminator memanaskan susunan kaca, enkapsulan, sel, dan backsheet hingga sekitar 140–160 °C agar enkapsulan meleleh dan mengikat sempurna. Pelat pemanas yang tidak merata dapat menyebabkan gelembung atau delaminasi, sehingga sensor RTD Pt100 sering dipasang di beberapa titik pelat untuk memastikan panasnya seragam.

Di luar lini proses, pabrik panel surya juga mengandalkan chiller, menara pendingin, sistem air ultramurni, dan instalasi pengolahan air limbah. Temperatur air pendingin yang naik bisa menjadi tanda chiller kelebihan beban, sementara temperatur air ultramurni ikut memengaruhi pembacaan resistivitas yang dipakai untuk menilai kemurniannya.

Sebagian besar titik ukur ini terhubung ke PLC atau DCS. Temperature transmitter mengubah sinyal sensor menjadi 4–20 mA sehingga data bisa dikirim jauh ke ruang kontrol tanpa banyak gangguan, lalu dipakai untuk alarm, pencatatan tren, dan pengendalian otomatis. Untuk pabrik yang menjalankan produksi 24 jam, data tren ini juga membantu tim maintenance melihat pola sebelum terjadi gangguan.

Pemilihan sensor di industri fotovoltaik sebaiknya dimulai dari tiga hal, yaitu rentang temperatur, jenis media yang bersentuhan dengan sensor, dan cara sinyalnya dibaca sistem kontrol. Untuk bak kimia, material pelindung sensor sama pentingnya dengan jenis elemen sensornya.

CV. Rach Tekindo Makmur menyediakan Temperature Sensor & Temperature Transmitter untuk berbagai kebutuhan instrumentasi industri. Jika Anda membutuhkan sensor, transmitter, maupun konsultasi konfigurasi dan pemasangan untuk sistem temperatur, hubungi WhatsApp 0877-8620-5656 untuk mendiskusikan kebutuhan teknis dan meminta penawaran sesuai aplikasi yang diperlukan.

Butuh konsultasi instrumen?

Tim kami siap membantu memilih produk yang tepat untuk kebutuhan Anda.

Hubungi via WhatsApp

Telah dibaca 12 kali.

Artikel Terkait

Link disalin